Tampilkan postingan dengan label Lebih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 November 2013

Lebih dari setengah pengguna android pakai Jelly Bean

Jakarta (ANTARA News) - Android 4.3 Jelly Bean luncur lebih dulu sebelum Android 4.4 KitKat.

Menurut statistik terbaru yang dipublikasikan Google,  52 persen dari semua pengguna perangkat Android saat ini menggunakan Jelly Bean..

Hal ini juga dikarenakan Android Jelly Bean memiliki beberapa versi, Android 4.1.x Jelly Bean, Android 4.2.x Jelly Bean, dan Android 4.3 Jelly Bean, serta masih ada beberapa fragmentasi.

Menariknya, android Froyo (Frozen Yoghurt) lebih banyak digunakan daripada Honeycomb yang lebih baru dan pada awalnya dirancang untuk tablet.

Sementara Gingerbread memiliki persentase terbesar kedua 26.3 persen dan diikuti oleh Ice Cream Sandwich 19.8 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap iterasi Android yang dirilis, Google dan mitranya terus melakukan perbaikan  untuk  pengguna

Jadi menarik untuk melihat bagaimana pencapaian Android 4.4 KitKat di masa mendatang, demikian seperti dilansir dari laman Ubergizmo.



View the original article here



Peliculas Online

Tidur lebih cepat hindarkan obesitas anak

Ilustrasi foto kegemukan pada anak. (healthwireblog.com)

Peran penting dari tidur harus lebih dikembangkan."
Jakarta (ANTARA News) - Anak yang tidur malam lebih cepat dapat menjadi cara mudah terhindar dari kegemukan berlebihan (obesitas), demikian hasil riset Temple University di Philadelphia, Amerika Serikat (AS).

"Penemuan ini menyebutkan bahwa meningkatkan jam tidur anak dalam usia sekolah pada malam hari bisa memberikan pengaruh penting terhadap pencegahan sekaligus perawatan terhadap obesitas," kata Dr Chantelle Hart dari Temple University layaknya dikutip Daily Mail.

Para peneliti dalam riset tersebut menemukan bahwa obesitas pada anak-anak tidak hanya dipicu makanan cepat saji, minuman manis dan kurangnya aktivitas di luar ruangan, ujarnya.

Ia menyatakan, "Peran penting dari tidur harus lebih dikembangkan."

Penelitian yang dipublikasikan jurnal Pediatrics itu mencatat, kurang tidur juga disebut sebagai salah faktor penting obesitas pada anak.

Peneliti menemukan hasil setelah menyesuaikan pola tidur pada 37 anak berusia 8 hingga 11 tahun, dan satu dari empat anak ditemukan kelebihan berat badan (obesitas).

Pada minggu pertama penelitian, anak-anak diminta untuk tidur sesuai dengan jumlah yang dianjurkan, pada minggu kedua anak-anak tersebut memiliki jam tidur yang acak, ada yang dikurangi ada yang ditambah. Adapun di minggu ketiga jadwal tidur mereka diballik.

Ketika anak-anak meningkatkan jumlah jam tidur mereka, ternyata mereka dilaporkan mengonsumsi rata-rata 134 kalori lebih sedikit setiap hari dan berat badannya turun 250 gram.

Riset tersebut menunjukkan pula bahwa anak-anak memiliki tingkat puasa yang lebih kecil dari hormon leptin yang mengatur rasa lapar. (*)



View the original article here



Peliculas Online

Kemenkeu harapkan pertumbuhan triwulan IV lebih tinggi

Bambang PS Brodjonegoro (ANTARA FOTO/Audy Alwi)

Mudah-mudahan di triwulan empat ada perbaikan, minimal 5,8 persen sehingga keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi 5,8 persen,"
Jakarta (ANTARA News) - Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengharapkan kinerja perekonomian nasional pada triwulan IV dapat lebih baik dari triwulan III yang hanya tumbuh sebesar 5,62 persen, sehingga pada akhir tahun angka pertumbuhan ekonomi 5,8 persen dapat tercapai.

"Mudah-mudahan di triwulan empat ada perbaikan, minimal 5,8 persen sehingga keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi 5,8 persen," ujarnya di Jakarta, Rabu.

Bambang menjelaskan angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan III yang hanya tercatat 5,62 persen, lebih rendah dari triwulan II sebesar 5,81 persen, merupakan angka realistis karena saat ini sedang terjadi perlemahan ekonomi terutama dari sisi investasi.

"Ini sebenarnya dalam perkiraan kita, meskipun kita masih berharap 5,8 persen pada triwulan tiga. Tapi 5,6 persen sudah sejalan dalam kondisi sekarang, bahwa pasti terjadi perlemahan," ujarnya.

Bambang mengatakan angka pertumbuhan 5,62 persen pada triwulan III bukan realisasi yang buruk dalam situasi saat ini, namun angka pertumbuhan ekonomi yang terlalu rendah dapat mengkhawatirkan karena ikut mempengaruhi tingkat pengangguran dan kemiskinan.

"Kita agak lega bahwa memang terjadi pelemahan tapi tidak seburuk yang dibayangkan, karena kalau terlalu dalam, kita khawatir ada dampak ke kemiskinan dan pengangguran, yang tidak bisa diatasi dengan kebijakan moneter maupun fiskal," katanya.

Untuk itu, ia mengatakan perlu adanya upaya yang lebih maksimal untuk memperbaiki kinerja realisasi investasi, mempercepat penyerapan belanja pemerintah serta menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang selama ini dominan menjadi penyumbang angka pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kita akan fokus pada kebijakan fiskal untuk mendorong dan melancarkan ekspor serta mengendalikan impor, dalam jangka pendek. Setelah itu, fokus ke investasi untuk jangka menengah. Kita juga mengharapkan alokasi anggaran dipakai dengan benar," katanya.

Bambang juga memastikan fokus pemerintah saat ini adalah melakukan stabilisasi untuk memperkuat fundamental perekonomian nasional agar tidak terpengaruh dengan kondisi ekternal, dan pelaku pasar serta investor memberikan kepercayaan penuh kepada Indonesia.

Sementara, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar menambahkan angka pertumbuhan ekonomi 5,62 persen pada triwulan III merupakan angka yang tidak dikhawatirkan oleh investor, karena masih relatif tinggi.

Menurut dia, angka tersebut justru memberikan peluang bagi pemerintah untuk menstabilkan neraca transaksi berjalan yang masih mengalami defisit dan sempat memberikan kekhawatiran kepada investor atas fundamental perekonomian Indonesia.

"Ini bisa memberikan peluang untuk sesuatu yang berimbang dari aspek neraca transaksi berjalan, karena tekanan akibat tingginya laju impor bisa mulai dikurangi," katanya.
(S034/B012)



View the original article here



Peliculas Online

Selasa, 05 November 2013

Tahun Baru Islam bisa lebih populer dari tahun masehi

Jakarta (ANTARA News) - Penulis Muhammad Assad berharap media di Indonesia memiliki peran besar dalam dalam mensosialisasikan hari-hari besar sesuai kalender Islam, termasuk Tahun Baru Islam.

"Sangat disayangkan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim lebih mengenal tahun baru masehi dibandingkan tahun baru Islam," ujarnya di Jakarta, Selasa.

Dia menilai, bila media di Indonesia mensosialisasikan tahun baru Islam 1 Muharram 1435 Hijriah sama seperti menyambut tahun baru masehi tentu masyarakat muslim dapat lebih mengetahui hari besar Islam.

"Akhirnya masyarakat jadi tahunya libur doang, hari kejepit. Media punya peran untuk memberi informasi tentang hal-hal seperti ini, apa pentingnya tahun baru Islam," lanjut penulis "Notes From Qatar" itu.

Dia optimistis bila media mengambil peran besar dalam sosialisasi, penanggalan hijriah bisa jadi tidak kalah populer dari penanggalan masehi. Dia mengambil contoh hijab yang akhir-akhir ini semakin marak, termasuk dari segi fashion.

"Kalau kita lihat, hijab dulu tidak terlalu populer. Tapi dalam satu-dua tahun peran media sangat signifikan sehingga bikin awareness di masyarakat," papar penulis "99 Hijab Stories" yang kini dimunculkan dalam bentuk acara televisi "Hijab Stories".

Lebih lanjut, Assad berpendapat tahun baru Islam sebaiknya dijadikan momentum untuk melakukan gerakan positif yang membuat umat menjadi lebih baik.

"Tapi yang paling penting itu action, harus bisa berbuat. Bukan hanya bermimpi, tapi juga lakukan."



View the original article here



Peliculas Online