ALUNAN CINTA KITA
Puisi Adelia Lintang Kirana
Tertawaku saat dengar candanya
Sejenak ku terlepas pada rindu yang tertahan dalam dada
Ku BT di buatnya
Saat tingkahmu bak anak" di bawah umur lima
Dongkolku tiada tara
Ku lihat wajahnya
Senyumnya, bibirnya, gerak tubuhnya
Begitu menggoda jiwa
Menangis ku karnamu
Ingatkan semua kenangan kita dulu
Saat dusta itu terkuak di depanku
Saat amarahmu menyapa pedihku
Kini hanya tinggal kenanganku bersamamu
Tenggelam bersama senja
Hilang di telan mimpi malam tanpa suara
Minggu, 05 Februari 2012
puisi-dimana aku harus mencari
Kuhembuskan nafasku dalam hidup
Indah kesunyian dalam mimpi
Diam ku seribu bahasa
Diam menyimpan dalam perih
Sesumbar ku katakan aku bisa hidup sendiri
Tanpamu kawanku.....
Namun dalam hati aku teriak
Teriak tiada henti
Menangis dalam kepedihan
Kesuyian yang selalu menemani
Dan selalu menghampiri
Selalu dan selalu.....
Hingga aku merasa lelah
Untuk melepaskannya dan meninggalkannya
Kapan kesunyian dan kehampaan ini pergi
Ku lepas dan ku tinggalkan
Kapan.....
Adakah secercah harapan
Menyelimuti diri dan merasuk ke hati
Adakah....
Dimana harus ku mencari?
Kawan pengganti seperti engkau.?.........
Indah kesunyian dalam mimpi
Diam ku seribu bahasa
Diam menyimpan dalam perih
Sesumbar ku katakan aku bisa hidup sendiri
Tanpamu kawanku.....
Namun dalam hati aku teriak
Teriak tiada henti
Menangis dalam kepedihan
Kesuyian yang selalu menemani
Dan selalu menghampiri
Selalu dan selalu.....
Hingga aku merasa lelah
Untuk melepaskannya dan meninggalkannya
Kapan kesunyian dan kehampaan ini pergi
Ku lepas dan ku tinggalkan
Kapan.....
Adakah secercah harapan
Menyelimuti diri dan merasuk ke hati
Adakah....
Dimana harus ku mencari?
Kawan pengganti seperti engkau.?.........
puisi-cintaku yang sengit
rapatkan pakaianmu
tangan dinginku akan menyusup
ke dalamnya
meraba kejalangan kita
dan sisa kebohongan yang terus merambat
di punggungmu
jangan bayangkan wajah rumah
di sana bulan tak pernah lupa rebah
aku hanya ingin mengecup amarahnya
lantaran terangnya tak pernah menyentuh
masa kecilku
manakala tubuhmu telah siap jadi ranjang
sepreikanlah dengan cinta sekedarnya
lalu tanggalkan pakaianmu
biarkan bayanganmu yang gemetar
melibasku sampai kapar
sampai hancur semua pagar
tangan dinginku akan menyusup
ke dalamnya
meraba kejalangan kita
dan sisa kebohongan yang terus merambat
di punggungmu
jangan bayangkan wajah rumah
di sana bulan tak pernah lupa rebah
aku hanya ingin mengecup amarahnya
lantaran terangnya tak pernah menyentuh
masa kecilku
manakala tubuhmu telah siap jadi ranjang
sepreikanlah dengan cinta sekedarnya
lalu tanggalkan pakaianmu
biarkan bayanganmu yang gemetar
melibasku sampai kapar
sampai hancur semua pagar
puisi-bunga mawar
Bunga mawar…
Kau berwarna merah
Aku sangat menyukaimu
tetapi durimu tajam
Mawar….
Kau berbau harum mempesona….
Ketika aku lupa menyirammu kau layu
aku menangis….
Kau berwarna merah
Aku sangat menyukaimu
tetapi durimu tajam
Mawar….
Kau berbau harum mempesona….
Ketika aku lupa menyirammu kau layu
aku menangis….
puisi-dukaku yang risau
berjalan, berjalan selagi di diri duka
bernapas lega menemu perempuan
kami berpandangan: lantas tahu
segalanya tinggal masa kenangan
kami berjalan memutar danau
namun kutahu: dukaku yang risau
takkan mendapatkan pelabuhan aman
kecuali dalam pelukan penghabisan
kupandang matanya:
tak kukenal siapa pun juga
semuanya nanar
didindingi kabut samar
bernapas lega menemu perempuan
kami berpandangan: lantas tahu
segalanya tinggal masa kenangan
kami berjalan memutar danau
namun kutahu: dukaku yang risau
takkan mendapatkan pelabuhan aman
kecuali dalam pelukan penghabisan
kupandang matanya:
tak kukenal siapa pun juga
semuanya nanar
didindingi kabut samar
puisi-dukaku yang risau
berjalan, berjalan selagi di diri duka
bernapas lega menemu perempuan
kami berpandangan: lantas tahu
segalanya tinggal masa kenangan
kami berjalan memutar danau
namun kutahu: dukaku yang risau
takkan mendapatkan pelabuhan aman
kecuali dalam pelukan penghabisan
kupandang matanya:
tak kukenal siapa pun juga
semuanya nanar
didindingi kabut samar
bernapas lega menemu perempuan
kami berpandangan: lantas tahu
segalanya tinggal masa kenangan
kami berjalan memutar danau
namun kutahu: dukaku yang risau
takkan mendapatkan pelabuhan aman
kecuali dalam pelukan penghabisan
kupandang matanya:
tak kukenal siapa pun juga
semuanya nanar
didindingi kabut samar
puisi-dukaku yang risau
berjalan, berjalan selagi di diri duka
bernapas lega menemu perempuan
kami berpandangan: lantas tahu
segalanya tinggal masa kenangan
kami berjalan memutar danau
namun kutahu: dukaku yang risau
takkan mendapatkan pelabuhan aman
kecuali dalam pelukan penghabisan
kupandang matanya:
tak kukenal siapa pun juga
semuanya nanar
didindingi kabut samar
bernapas lega menemu perempuan
kami berpandangan: lantas tahu
segalanya tinggal masa kenangan
kami berjalan memutar danau
namun kutahu: dukaku yang risau
takkan mendapatkan pelabuhan aman
kecuali dalam pelukan penghabisan
kupandang matanya:
tak kukenal siapa pun juga
semuanya nanar
didindingi kabut samar
Langganan:
Postingan (Atom)